(Yossa's short story)
Sesungguhnya hidup sangat indah
jika kita menyadari bahwa keindahan itu sesungguhnya adalah diri kita. Banyak
orang mencari kebahagiaan dari kemewahan, ke popularan, fashion, bahkan dalam
diri orang lain. Terkadang kita merasa melihat kebahagian itu di mata orang
yang kita sayangi, tetapi sesungguhnya kita sedang melihat pantulan kebahagiaan
yang sebenarnya ada dalam diri kita sendiri. Kita terlalu lelah mencari, hingga
akhirnya kita kembali pada awal, diri kita.
Aku menyebut
mereka jari-jari kecil yang menggelikan. Jari tengah mengelitik telapak tangan
dan semua tertawa. Ho, ho, ho, kami sedang tawai!.
###
Semerbak aroma tawa menghiasi puluhan hari dan ratusan jam kebersamaan
kami dalam kelas itu. Ya.. 3ph2. Kelas kusam dengan dinding hijau yang mulai
pudar. Tetapi kami tidak pernah memandang betapa jeleknya kursi-kursi kayu itu,
atau betapa buruknya wajah kami saat tertawa. Kami tidak punya jadwal kapan
lelucon itu harus keluar ataupun scenario tetap yang harus kami ikuti.
Kami terlalu bahagia untuk dapat menulis atau
bahkan menderngarkan curhatan guru-guru. Kami gila dalam kebahagiaan yang kami
bangun dibalik benteng-benteng kami tak akan pernah hancur.
###
Hari itu mentari
siang tertawa angkuh sembari menunjukkan gigi kuningnya yang bau dan mengerikan. Semua orang takut,
mereka terkejut. Tak pernah ada mentari yang tertawa begitu menggenaskan,
bahkan dalam cerita teletubis mentari di gambarkan sebagai anak kecil lucu dan
ceria. Namun sekarang ceritanya berbeda, mentari hari itu tertawa dengan ganas
karena melihat kami, 3ph 2 memulai lelucon itu lagi.
Disana, di
belakang bangkuku seorang anak laki-laki berpostur tinggi dan ramping
menjatuhkan leluconnya tepat dihadapanku.
“aku akan selalu
menaburkan aura kegantengan ku ”
“4l4y for ever”
Wow! Dia mulai lagi!
Di dalam kelas, kami dapat melakukan apapun yang mungkin tak
terpikirkan orang lain. Kami mengatai guru, kami memprotes guru, bahkan tak
jarang kami mengucapkannya secara langsung, tak seorangpun yang munafik. Tak
seorangpun.
Di kelas kami yang mungkin
terlihat menjijikkan bagi ‘orang luar’ menjadi rumah kedua bagi kami ‘anak-anak
pencinta kasih’. Kami menciptakan lawakan miris,lelucon cinta dan beberapa FBI
tertutup. Kami mencintai semua yang sudah terlukis secara tersirat dalam kelas
‘kandang’ itu. Hingga sebuah cinta alami bertunas di antara sepasang’ anak-anak
pencinta kasih’ itu.
###
Kami memulai persahabatan kami dengan ganjil, dengan ketegangan yang
dulu selalu tercipta setiap hari, umpatan kebencian bahkan perkelahian dengan
dampak masuk BP, menjadi sarapan dan makanan ringan yang siap kami santap
setiap hari. Indah, miris!.
Kini bagi kami rasa
persahabatan, seperti roti dan selai yang tidak nikmat dimakan jika tidak lengkap,
seperti sayur tanpa garam (klise) yang gak banget kalau tidak terasa asinnya.
Persahabatan bagi kami juga sangat penting, layaknya manusia yang tidak mampu
lagi tertawa (waduh, gawat!). Persahabatan??? itu magic wordnya.
Kami tidak pernah tahu apa yang mungkin saja baru terjadi diantara
kami, tetapi di kelas ini kami tidak pernah lagi memikirkan betapa kurusnya
tubuh kami, betapa jeleknya jerawat yang menempel di ujung hidung atau
menyesali nasib malang yang ditinggal pacar. Kami satu dalam bahagia yang kami
bangun sendiri dalam dunia kami. Kami pernah berjanji dalam hati kami, jika
kaki kets putih yang datang keesokan pagi akan masuk dengan sejuta tawa yang
akan meledak nantinya.
###
Terkadang rasa bahagia membuat seluruh
persendian kita mengejang, darah kita terpompa cepat, jantung kita berdebum
seperti drum seakan meledakkan tubuh kita dan berubah menjadi keeping-keping
kecil yang akan di terbangkan angin menuju firdaus kekal.
Kita tak dapat menolak kesedihan, tetapi
tak satupun yang dapat melarang kita mendapatkan kebahagiaan!
Oleh : Yossa-Lee